Ulama-ulama di Prancis mengecam tindakan terorisme atas nama Islam di negara tersebut. Mereka berpesan untuk menjauhkan lima juta umat Muslim dari para penjihad yang bertanggung jawab atas penyerangan. Pesan ini disiarkan di lebih dari 2.300 mesjid di seluruh Prancis.
"Kami mencela tindakan kriminal yang dilakukan oleh para teroris, yang aksinya membahayakan keinginan kami untuk hidup berdampingan," kata Dalil Boubakeur selaku ulama senior di Grand Mosque of Paris. Dia juga menghimbau para umat Muslim di Prancis untuk ikut turun memberikan penghormatan pada hari minggu ini bagi ke-12 korban penyerangan Charlie Hebdo.
Di mesjid-mesjid lokal, para ulama mencela penjihad yang mengklaim dirinya membalaskan dendam Nabi Mohammad dengan menembak mati para kartunis.
Charlie Hebdo telah membuat marah banyak umat Muslim dengan secara terus-terusan mempublikasi kartun yang menggambarkan Nabi Mohammad untuk mengecam para ektremis Islam. Kelompok Muslim di Prancis telah membawa hal ini ke pengadilan, tetapi tidak dapat menang.
"Orang-orang yang melakukan penyerangan atas nama Islam bukanlah Muslim... Nabi tidak menganjurkan kekerasan terhadap kaum non-Muslim," kata Abdel Qader Achour, pemuka agama di salah satu mesjid yang berdekatan dengan kantor Charlie Hebdo. "Prancis adalah negara kita, kita sudah di sini selama 3-4 generasi, dan kita tidak harus takut" katanya.
"Kartun anda balas dengan kartun, gambar dibalas dengan gambar, artikel koran dengan artikel koran... tapi anda jangan balas dengan senjata," kata Mustafa Riad dari persatuan mesjid di daerah selatan kota Montpellier.
Teolog Muslim, Tareq Oubrou, seorang ulama di Bordeaux bagian tenggara, mengatakan umat Muslim marah agama mereka telah "diambil alih oleh orang-orang gila... dan tidak berpendidikan, tidak seimbang".
Para pemimpin Muslim was-was bahwa penyerangan Charlie Hebdo akan membuat permusuhan dan penyerangan pada komunitasnya. Perdana Menteri Manuel Valls menyatakan bahwa Prancis memerangi "terorisme" bukan "agama".
Sekitar 390 penjihad Prancis diperkirakan sedang berperang di Syria, berdasarkan estimasi terakhir, dan sekitar 60 orang telah meninggal berperang dengan kelompok ekstrem di sana.
Seorang Muslim Amine Giellil, 47, mengatakan "Seorang Muslim yang baik tidak akan pernah menembak siapapun, yang berbuat seperti itu tidak dapat menjadi seorang Muslim."
Dua dari antara korban pembantaian Charlie Hebdo adalah Muslim, termasuk polisi Ahmed Merabet yang tertembak saat berusaha menghentikan teroris yang kabur.
"Ada jutaan Muslim di Prancis, dan sebagian besar sudah berbaur dengan kehidupan di Prancis," kata Claude Dargent, profesor di universitas Sciences Po di Paris. "Dan mereka yang tidak dapat berbaur, itu bukanlah karena agama, akan tetapi kondisi sosial dan ekonomi mereka."
No comments:
Post a Comment