1/11/2015

Nigeria: Seorang nelayan selamat dari penyerangan Boko Haram

Yanaye Grema,38, bersembunyi di antara rumah dan tembok tetanggganya selama tiga hari, pada saat pejuang Boko Haram menjarah kota Baga, di pesisir danau Chad, Nigeria bagian timur laut.

Nelayan tersebut sudah mengetahui seberapa serius serangan tersebut, ia tergabung dalam kelompok warga yang menjaga kota, akan tetapi persenjataan mereka yang masih sederhana tidak mampu menandingi persenjataan musuh.

"Warga berlarian melarikan diri ke semak-semak, sementara beberapa orang lainnya mengunci dirinya di rumah," dikatakannya mengenai insiden tersebut. "Kelompok bersenjata tersebut mengejar warga yang lari ke semak-semak dan menembak mati mereka"

"Sejauh lima kilometer, saya terus berjalan menginjak mayat-mayat sampai akhirnya mencapai desa Malam Karanti, yang juga sudah ditinggalkan dan dibakar," katanya.

Bersembunyi antara tembok, di belakang warung jalanan dan ditutupi pohon neem yang lebat, Grema mengatakan amukan pemberontak Islam tersebut menyebabkan kekacauan.

"Yang dapat saya dengar adalah suara tembakan tanpa henti, ledakan, jeritan dari warga, dan seruan 'Allahu Akbar' dari para pejuang Boko Haram," tambahnya.

"Saya terus bersembunyi sampai Selasa sore. Setiap malam ketika sudah gelap, saya diam-diam masuk ke rumah saya untuk makan garri dan minum air dengan cepat, kemudian kembali ke tempat persembunyian."

Keluarga Grema pada saat itu sedang tidak di rumah. Mereka berada di Kukawa, yang berjarak 40 kilometer, untuk berziarah setelah Boko Haram membunuh istri sepupunya 2 bulan lalu.

"Beberapa pasukan Boko Haram berkemah di luar pasar Baga, hanya berkisar 700 meter dari tempat persembunyian saya," jelasnya.

"Pada waktu malam, saya dapat melihat lampu-lampu dari pembangkit listrik yang mereka jalankan. Saya juga dapat mendengar mereka merayakan dan tertawa.

Untungnya pada hari Senin, beberapa pasukan ditarik mundur, walaupun masih ada  sedikit yang berjaga, hal itu membuat mereka tidak dapat berpatroli di satu kota tersebut. Ini menguntungkan bagi saya.

Hari Selasa, mereka mulai menjarah pasar dan setiap rumah di kota... 

http://media.zenfs.com/en_us/News/afp.com/Part-PAR-Par8068892-1-1-0.jpgSekitar pukul 6 sore mereka mulai membakar pasar dan rumah-rumah tersebut. Saya memutuskan untuk pergi sebelum mereka mengetahui keberadaan saya.

Sekitar pukul setengah 8, saya merangkak keluar dari persembunyian dan berjalan menjauhi suara-suara pasukan Boko Haram. Saat itu gelap, jadi tidak ada yang dapat melihat saya."

......................................................................................................................................................................

Di sesemakan, Grema bertemu dengan orang tua di sekitar pemukiman pengembara Fulani, yang menyarankan dia untuk berjalan ke barat menjauhi para militan.

"Peringatannya membuat saya takut tapi juga membuat saya bertekad untuk pergi. Saya mengucapkan terima kasih dan lanjut berjalan," katanya.

"Saya mempercepat langkah saya. Tidak berapa lama saya bertemu... empat wanita. Salah satu dari mereka sedang menggendong bayi di punggungnya. Mereka mengatakan bahwa mereka wanita yang kabur dari antara ratusan wanita lainnya yang ditangkap Boko Haram dan dikurung di suatu bangunan yang disebut Boko Haram sebagai penjara wanita."

Tiga dari wanita tersebut terpisah dari anak-anaknya.

Grema mengatakan akhirnya ia memisahkan diri, karena wanita-wanita tersebut "terlalu lambat," dia berlari dan berjalan sepanjang malam, sebelum tiba di desa Kekeno dekat Monguno, sejauh 65 kilometer, pada pagi hari.

Hari Selasa, ia naik bus dari Monguno ke Maiduguri.

"Saya tidak akan pernah melupakan pengalaman ini dan akan selamanya bersyukur pada orang tua pengembara di Fulani atas saran yang menyelamatkan hidupnya,"

......................................................................................................................................................................

Polisi setempat mengatakan penyerangan tersebut memaksa 20.000 orang dari Baga dan pemukiman sekitar danau Chad kabur, banyak dari mereka yang melewati perbatasan.
Hampir 600 sisanya terlantar di pulau di tengah danau tanpa makanan, air, maupun tempat berlindung.

Penyerangan ini bukan yang pertama kalinya di Baga. Hampir 200 orang dibunuh pada April, 2013, ketika militan menyerbu kota dan membumihanguskannya, mendorong terjadinya pertempuran dengan tentara Nigeria.

Akan tetapi, pada penyerangan ini, kelompok Islamis Boko Haram tidak menemukan perlawanan berarti dan dapat mengambil alih kota dan markas pusat Multinational Joint Task Force.

Setidaknya ada 16 kota dan desa yang dibumihanguskan

Pengamat keamanan percaya bahwa target penyerangan tersebut adalah warga yang membantu kelompok militer dalam menghadapi pemberontak.

Benar-benar pengalaman yang menegangkan bagi nelayan tersebut... 
Bagaimana jika anda yang terjebak dalam penyerangan tersebut?

No comments:

Post a Comment